Rabu, 18 Maret 2015

Tentang Cinta


Aku hanya orang bisa yang mencintaimu dengan cara sederhana, hanya bisa memanggil mu di hati mengagumi mu dari bayangan belaka. Mungkin aku hanya satu dari jutaan orang yang mencintaimu. Mungkin aku hanya satu dari ribuan orang yang mengagumi mu. Aku hanyalah perempuan sederhana yang tetap di belakangmu saat kamu memandang dunia. Tapi.. Mungkin hanya aku yang satu-satunya tetap mencintaimu, tulus mendoakan mu.

Di kamarku yang sepi, sambil mendengarkan rintik hujan malam ini, aku hanya bisa diam dan merenung. Mungkin, aku perempuan paling bodoh yang pernah kamu temui, perempuan yang pernah tak memberimu kepastian apapun saat kamu mengungkapkan semua perasaanmu. Apa kamu tau saat kamu mengungkapkan semua perasaanmu?

Aku merasa bahagia, sangat bahagia ketika mendengar kamu mempunyai rasa yang sama seperti aku. Tapi entah apa yang ada di pikiran ku saat itu, sampai aku mengabaikan ucapanmu, sampai aku tak memberimu jawaban apapun, bahkan kini rasanya tak ada kesempatan yg kamu berikan untuk ku. Dan ketika aku tahu kamu memutuskan pergi dengan wanita lain, tiba-tiba rasa penyesalan datang, menertawakan ku bersama dengan kepergian mu.

Aku ingat bagaimana saat awal pertama kali kau menyapa ku, aku ingat bagaimana pertama kali kita dekat, Bagaimana kamu yang selalu terlihat tersenyum ketika bersamaku, memaksa aku untuk terus mengajari mu membuat balon dari permen karet, aku ingat bagaimana ketika kita melihat kembang api tahun lalu, kamu mengajak ku melihat kembang api yang paling indah menurut mu. Aku ingat, sangat ingat!

Semuanya sudah ku kemas rapi. Malam ini satu pelajaran hidup lagi yang aku dapat "1 hal yang tidak akan pernah kembali: waktu & kenangan" semua berlalu dan semua cerita harus punya akhir, tapi rasanya ini bukan akhir yang aku harapkan tak adil jika pada akhirnya aku tahu, kamu tak pantas diperjuangkan sedalam ini.


Rabu, 23 Juli 2014

Curhatan Ku

Dulu aku pernah ada di posisi yang mungkin gak enak, dalam persahabatan pasti kalian juga pernah ada di posisi itu. Hubungan ku dengan Novia menjadi renggang karena hal sepele. Dia mengucilkan aku kepada teman sekelas.

Aku mau cerita dulu ya sedikit. Memang.. Impian terbesarku dari SMP adalah bisa melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Indonesia. Aku gak peduli masalah ekonomi atau apapun, yang aku tau tak ada yang tak mungkin kalau kita mau berusaha.

Bukankah begitu teman-teman? Jujur aku adalah tipe orang yg keukeuh, aku tak peduli orang lain menganggap ku tak pantas kuliah di UI atau apa. Hampir setiap hari aku selalu berbicara UI, UI, dan UI.

Di sela-sela jam istirahat aku selalu mencari cari informasi tentang perguruan tinggi tersebut, lewat ponsel sederhana ku, tak mewah memang tapi tidak terlalu jadul juga hehehe.

Mungkin dari situlah dia merasa sebal dengan ku atau apa aku juga tidak tau, tiba-tiba dia mengucilkan aku. Mendengar omongan nya tersebut tentu aku langsung marah, memang aku tipe-tip anak yang purikan, malah aku bisa diemin orang itu tanpa bertanya sepatah kata pun. Jangan ditiru ya..

Memang, kata ibu sifat lahir itu sulit di hilangkan. Tapi entahlah-_- Aku kira waktu itu sahabatku mendukung ku sepenuh hati, aku kira sahabatku mendoakan ku tapi apa yang aku dapat? Dari situlah aku memilih untuk menjaga jarak, saling menyapa pun kami jarang bahkan tidak pernah.

Akhirnya aku memilih bersama Devi, Novia bersama Fikoh.. Memang Devi dan Fikoh itu netral tidak membela siapapun diantara kami. Saat itu Hari hari kami lewati tanpa kebersamaan, rasanya hambar.. Biasanya kami ke mana pun selalu berempat, tapi setelah masalah itu kami menjadi renggang.. Jauh...

Kadang kala aku merasa bersalah, tapi apa mesti aku saja yang meminta maaf duluan? Bukankah dia yang memulai? Apa dia tak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi aku? Ketika sahabatnya tak mendukung keinginan nya? bagaimana jika kalian ada di posisiku?

Tapi aku terus berfikir dan berfikir aku sudah kelas 2 SMA aku harus dewasa dan menyelesaikan masalah harus dengan kepala dingin bukan malah saling menjauh.

Ketika kelas ku menjadi pemain pertama, aku sempat sms an juga dengan dia, aku memintanya hadir untuk memberikan dukungan kepada kami, tetapi kali ini Novia tidak bisa hadir karena ia sakit, dan baru pulang dari UGD.

Waktu sudah hampir siang, jam permainan akan segera di mulai. Akhirnya sms terakhirku hanya mengucapkan "GWS " dia membalas nya dengan "terimakasih gea " Akhirnya aku berangkat menuju sekolah.

Tadinya aku dan kelas ku berencana untuk menjenguknya, setelah pulang class meeting. tapi aneh! Sepulang class meeting kami malah langsung pulang ke rumah masing-masing, mungkin karena capek atau apa.

Satu minggu berlalu, alahamdulillah kelas ku XI IPA 3 menjadi pemenang juara 1, pengumuman juara itu tepatnya hari jum'at karena besok memang tiba saatnya pembagian raport alhamdulilah novia juga sudah menunjukan tanda-tanda sehat, jadi besok (hari sabtu) dia sudah bisa sekolah. Tepat tanggal 21 juni kami akan menerima rapot.

Tapi tiba-tiba aku mendapatkan kabar dari sepupunya Novia bahwa dia sudah tidak ada, jujur aku tak percaya.. Biasa aja mungkin dia hanya ingin mengejutkan aku

Tepat nya malam sabtu, jam 20:05 aku mendapat sebuah pesan singkat dari Reni "te Anggi,Novia meninggal.." percakapan panjang aku mulai. Dan setelah Reni dan Dede meyakinkan aku, innalilahi wainnailaihirojiun  4 pea berduka, aku langsung menghubungi teman-teman ku dan langsung menuju ke rumah duka.

Air mataku mengiringi kepergian nya, jerit tangis semakin menjadi saat aku melihat jasad kaku nya, sakit bercampur penyesalan menyelimuti XI IPA 3 karna tidak jadi menjenguk nya tadi siang. Karena waktu sudah hampir pagi aku juga sudah mendapatkan sms dari ibu agar segera pulang karena besok sekolah, akhirnya Aku, Devi dan yang lain pulang dan memutuskan kembali esok setelah pembagian rapot.

Tepat pukul 00:25 aku sampai di rumah, aku masih tak percaya, aku menatap langit langit kamar ku dan berkata apakah ini benar atau hanya mimpi? Allah secepat inikah engkau memisahkan kami?..



---oo0oo---

Selasa, 22 Juli 2014

Kini Hanya Harapan...

Saat itu aku berusia 16 tahun, seorang gadis remaja yang tumbuh dalam keluarga sederhana. Namun ibu selalu menyemangati ku untuk selalu rajin belajar, karena hanya itu tugas yang utama ku saat itu.

Aku terbilang anak yang dengan kemampuan standar dibandingkan dengan teman-teman ku yang lain. Terkadang aku merasa biasa-biasa saja, meskipun aku kerap mendapat juara kelas. Tapi menurutku itu hal yang sepatutnya kupersembahkan untuk kedua orang tua ku.

Rasa nya tak perlu lagi ku tuliskan apa alasan nya, jika berbicara kewajiban kepada kedua orang tua.

Suatu ketika aku punya mimpi, saat itu aku masih duduk di bangku SMA. Aku ingin sekali bisa menuntut ilmu di luar negeri, bukan berarti dalam negeri kurang baik. Tapi rasanya impian setiap pelajar pasti banyak menginginkan hal yang sama untuk dapat memperoleh pengalaman di luar negeri.

Aku sangat berharap aku dapat belajar dan menjadi pelajar di sana, Meski rasa nya berat jika melihat kondisi keuangan keluarga ku. Tapi bermimpi kan tidak ada yang melarang, karena bermimpi kan gratis, dan siapapun berhak untuk melakukannya.

Usaha yang kulakukan saat itu hanyalah belajar dengan giat dan berusaha mencari informasi sana sini untuk mencari program beasiswa. Karena dengan cara itu mungkin aku bisa mewujudkan mimpi ku.

Harapan dan cita-cita itu masih aku genggam. Aku simpan dalam lipatan memori yang tersusun rapi menyerupai folder baru, layaknya komputer. Kelak Folder itu akan aku buka ketika semuanya sudah tiba.

Gantungkan lah cita-citamu setinggi bintang di langit… Demikian bunyi kata-kata bijak yang ku dapatkan ketika masih duduk di bangku sekolah dasar.

Tiba-tiba lamunan ku terhenti. Ketika suara lirih itu dengan lembut menyapa ku. “Neng sudah malam, jangan di luar, nanti masuk angin…" Perempuan paruh baya itu mendorong kursi roda ku. Tak terasa hampir satu tahun kursi ini selalu menemani ku.



---oo0oo---