Dulu aku pernah ada di posisi yang mungkin gak enak, dalam persahabatan pasti kalian juga pernah ada di posisi itu. Hubungan ku dengan Novia menjadi renggang karena hal sepele. Dia mengucilkan aku kepada teman sekelas.
Aku mau cerita dulu ya sedikit. Memang.. Impian terbesarku dari SMP adalah bisa melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Indonesia. Aku gak peduli masalah ekonomi atau apapun, yang aku tau tak ada yang tak mungkin kalau kita mau berusaha.
Bukankah begitu teman-teman? Jujur aku adalah tipe orang yg keukeuh, aku tak peduli orang lain menganggap ku tak pantas kuliah di UI atau apa. Hampir setiap hari aku selalu berbicara UI, UI, dan UI.
Di sela-sela jam istirahat aku selalu mencari cari informasi tentang perguruan tinggi tersebut, lewat ponsel sederhana ku, tak mewah memang tapi tidak terlalu jadul juga hehehe.
Mungkin dari situlah dia merasa sebal dengan ku atau apa aku juga tidak tau, tiba-tiba dia mengucilkan aku. Mendengar omongan nya tersebut tentu aku langsung marah, memang aku tipe-tip anak yang purikan, malah aku bisa diemin orang itu tanpa bertanya sepatah kata pun. Jangan ditiru ya..
Memang, kata ibu sifat lahir itu sulit di hilangkan. Tapi entahlah-_- Aku kira waktu itu sahabatku mendukung ku sepenuh hati, aku kira sahabatku mendoakan ku tapi apa yang aku dapat? Dari situlah aku memilih untuk menjaga jarak, saling menyapa pun kami jarang bahkan tidak pernah.
Akhirnya aku memilih bersama Devi, Novia bersama Fikoh.. Memang Devi dan Fikoh itu netral tidak membela siapapun diantara kami. Saat itu Hari hari kami lewati tanpa kebersamaan, rasanya hambar.. Biasanya kami ke mana pun selalu berempat, tapi setelah masalah itu kami menjadi renggang.. Jauh...
Kadang kala aku merasa bersalah, tapi apa mesti aku saja yang meminta maaf duluan? Bukankah dia yang memulai? Apa dia tak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi aku? Ketika sahabatnya tak mendukung keinginan nya? bagaimana jika kalian ada di posisiku?
Tapi aku terus berfikir dan berfikir aku sudah kelas 2 SMA aku harus dewasa dan menyelesaikan masalah harus dengan kepala dingin bukan malah saling menjauh.
Ketika kelas ku menjadi pemain pertama, aku sempat sms an juga dengan dia, aku memintanya hadir untuk memberikan dukungan kepada kami, tetapi kali ini Novia tidak bisa hadir karena ia sakit, dan baru pulang dari UGD.
Waktu sudah hampir siang, jam permainan akan segera di mulai. Akhirnya sms terakhirku hanya mengucapkan "GWS " dia membalas nya dengan "terimakasih gea " Akhirnya aku berangkat menuju sekolah.
Tadinya aku dan kelas ku berencana untuk menjenguknya, setelah pulang class meeting. tapi aneh! Sepulang class meeting kami malah langsung pulang ke rumah masing-masing, mungkin karena capek atau apa.
Satu minggu berlalu, alahamdulillah kelas ku XI IPA 3 menjadi pemenang juara 1, pengumuman juara itu tepatnya hari jum'at karena besok memang tiba saatnya pembagian raport alhamdulilah novia juga sudah menunjukan tanda-tanda sehat, jadi besok (hari sabtu) dia sudah bisa sekolah. Tepat tanggal 21 juni kami akan menerima rapot.
Tapi tiba-tiba aku mendapatkan kabar dari sepupunya Novia bahwa dia sudah tidak ada, jujur aku tak percaya.. Biasa aja mungkin dia hanya ingin mengejutkan aku
Tepat nya malam sabtu, jam 20:05 aku mendapat sebuah pesan singkat dari Reni "te Anggi,Novia meninggal.." percakapan panjang aku mulai. Dan setelah Reni dan Dede meyakinkan aku, innalilahi wainnailaihirojiun 4 pea berduka, aku langsung menghubungi teman-teman ku dan langsung menuju ke rumah duka.
Air mataku mengiringi kepergian nya, jerit tangis semakin menjadi saat aku melihat jasad kaku nya, sakit bercampur penyesalan menyelimuti XI IPA 3 karna tidak jadi menjenguk nya tadi siang. Karena waktu sudah hampir pagi aku juga sudah mendapatkan sms dari ibu agar segera pulang karena besok sekolah, akhirnya Aku, Devi dan yang lain pulang dan memutuskan kembali esok setelah pembagian rapot.
Tepat pukul 00:25 aku sampai di rumah, aku masih tak percaya, aku menatap langit langit kamar ku dan berkata apakah ini benar atau hanya mimpi? Allah secepat inikah engkau memisahkan kami?..
Aku mau cerita dulu ya sedikit. Memang.. Impian terbesarku dari SMP adalah bisa melanjutkan ke perguruan tinggi Universitas Indonesia. Aku gak peduli masalah ekonomi atau apapun, yang aku tau tak ada yang tak mungkin kalau kita mau berusaha.
Bukankah begitu teman-teman? Jujur aku adalah tipe orang yg keukeuh, aku tak peduli orang lain menganggap ku tak pantas kuliah di UI atau apa. Hampir setiap hari aku selalu berbicara UI, UI, dan UI.
Di sela-sela jam istirahat aku selalu mencari cari informasi tentang perguruan tinggi tersebut, lewat ponsel sederhana ku, tak mewah memang tapi tidak terlalu jadul juga hehehe.
Mungkin dari situlah dia merasa sebal dengan ku atau apa aku juga tidak tau, tiba-tiba dia mengucilkan aku. Mendengar omongan nya tersebut tentu aku langsung marah, memang aku tipe-tip anak yang purikan, malah aku bisa diemin orang itu tanpa bertanya sepatah kata pun. Jangan ditiru ya..
Memang, kata ibu sifat lahir itu sulit di hilangkan. Tapi entahlah-_- Aku kira waktu itu sahabatku mendukung ku sepenuh hati, aku kira sahabatku mendoakan ku tapi apa yang aku dapat? Dari situlah aku memilih untuk menjaga jarak, saling menyapa pun kami jarang bahkan tidak pernah.
Akhirnya aku memilih bersama Devi, Novia bersama Fikoh.. Memang Devi dan Fikoh itu netral tidak membela siapapun diantara kami. Saat itu Hari hari kami lewati tanpa kebersamaan, rasanya hambar.. Biasanya kami ke mana pun selalu berempat, tapi setelah masalah itu kami menjadi renggang.. Jauh...
Kadang kala aku merasa bersalah, tapi apa mesti aku saja yang meminta maaf duluan? Bukankah dia yang memulai? Apa dia tak pernah merasakan bagaimana rasanya jadi aku? Ketika sahabatnya tak mendukung keinginan nya? bagaimana jika kalian ada di posisiku?
Tapi aku terus berfikir dan berfikir aku sudah kelas 2 SMA aku harus dewasa dan menyelesaikan masalah harus dengan kepala dingin bukan malah saling menjauh.
Ketika kelas ku menjadi pemain pertama, aku sempat sms an juga dengan dia, aku memintanya hadir untuk memberikan dukungan kepada kami, tetapi kali ini Novia tidak bisa hadir karena ia sakit, dan baru pulang dari UGD.
Waktu sudah hampir siang, jam permainan akan segera di mulai. Akhirnya sms terakhirku hanya mengucapkan "GWS " dia membalas nya dengan "terimakasih gea " Akhirnya aku berangkat menuju sekolah.
Tadinya aku dan kelas ku berencana untuk menjenguknya, setelah pulang class meeting. tapi aneh! Sepulang class meeting kami malah langsung pulang ke rumah masing-masing, mungkin karena capek atau apa.
Satu minggu berlalu, alahamdulillah kelas ku XI IPA 3 menjadi pemenang juara 1, pengumuman juara itu tepatnya hari jum'at karena besok memang tiba saatnya pembagian raport alhamdulilah novia juga sudah menunjukan tanda-tanda sehat, jadi besok (hari sabtu) dia sudah bisa sekolah. Tepat tanggal 21 juni kami akan menerima rapot.
Tapi tiba-tiba aku mendapatkan kabar dari sepupunya Novia bahwa dia sudah tidak ada, jujur aku tak percaya.. Biasa aja mungkin dia hanya ingin mengejutkan aku
Tepat nya malam sabtu, jam 20:05 aku mendapat sebuah pesan singkat dari Reni "te Anggi,Novia meninggal.." percakapan panjang aku mulai. Dan setelah Reni dan Dede meyakinkan aku, innalilahi wainnailaihirojiun 4 pea berduka, aku langsung menghubungi teman-teman ku dan langsung menuju ke rumah duka.
Air mataku mengiringi kepergian nya, jerit tangis semakin menjadi saat aku melihat jasad kaku nya, sakit bercampur penyesalan menyelimuti XI IPA 3 karna tidak jadi menjenguk nya tadi siang. Karena waktu sudah hampir pagi aku juga sudah mendapatkan sms dari ibu agar segera pulang karena besok sekolah, akhirnya Aku, Devi dan yang lain pulang dan memutuskan kembali esok setelah pembagian rapot.
Tepat pukul 00:25 aku sampai di rumah, aku masih tak percaya, aku menatap langit langit kamar ku dan berkata apakah ini benar atau hanya mimpi? Allah secepat inikah engkau memisahkan kami?..
---oo0oo---

heheheheheh... salam kenal
BalasHapussalam kenal juga ya.. terima kasih atas kunjungannya...
BalasHapus